Label

Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2011

Pemahaman Alkitab (PA)

“Tiga Anak Sebagai Peneguhan Janji Tuhan” (Yes 7:1 - 8:4)
“Tuhan Sebagai Tempat Kudus Sekaligus Sebagai Batu Sentuhan Dan Batu Sandungan” (Yes 8:5-22)
“Terang Yang Menembus Kegelapan” (Yes 8:23 – 9:6)
“Penghakiman Terhadap Efraim Dan Asyur” (Yes 9:7 – 10:19)
Itulah tema-tema dan nats yang menjadi bahan pembahasan selama bulan September.

Pemahaman Alkitab di Gereja Kristus Pos Kartini ini diadakan setiap Kamis dari jam 17.00 sampai 18.00.
Dalam satu jam itu pembicara tidak hanya menyampaikan tema dan nats. Tapi juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan renungan. Misalnya saja;

'Siapakah 3 anak yang dipakai Allah untuk meneguhkan janjiNya kepada Yehuda' (salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pembicara saat membahas tema "Tiga Anak Sebagai Alat Peneguhan Janji Allah")

Atau : 'Berdasarkan pasal 8:23, bagaimana keadaan Israel pada waktu menerima nubuatan Yesaya?' (satu dari beberapa pertanyaan yang diajukan pada waktu membahas tema "Terang Yang Menembus Kegelapan")

Tapi peserta PA pun bisa mengajukan pertanyaan, sanggahan, renungan, pendapat atau sharing pengalaman pribadi yang berkaitan dengan tema. Ini membuat PA menjadi lebih menyerupai forum diskusi. Padat dan kaya dengan pengetahuan akan hal-hal kerohanian yang disampaikan dalam suasana keakraban.

Hari lepas hari kita mendengarkan khotbah, membaca Alkitab atau renungan harian dan berdoa, di samping tentu saja mengalami banyak hal. Semua itu bisa menimbulkan pertanyaan atau renungan yang sebaiknya tidak kita simpan hanya untuk diri sendiri.

Membuka diri terhadap rekan seiman bisa memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada dalam pikiran kita. Dan membagi pengalaman atau pengetahuan rohani bisa menjadi input yang berharga untuk orang lain. 

Ciomas, Rabu, 12 Oktober 2011
- Keke Muliawati Yohanes -


Jumat, 30 September 2011

Didiklah Orang Muda

Kita sedang hidup di jaman akhir di mana hari-harinya semakin cepat berlalu dan juga semakin penuh dengan kejahatan (Ef 5:16). Tantangan, cobaan dan godaan yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan otomatis juga semakin banyak.
Yang menyedihkan adalah apa yang dikatakan firman Tuhan “UmatKu binasa karena tidak mengenal Allah” (Hos 4:6). Tuhan bicara tentang umatNya. Tuhan tidak merujuk kepada orang-orang yang bukan umatNya karena kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang-orang Kristen terancam atau malah mungkin sudah berada dalam kebinasaan karena terseret, terjebak atau terikat pada berbagai macam tantangan, cobaan dan godaan di jaman akhir ini.
Mengaku orang Kristen tidak akan menyelamatkan kita. Hidup mengenal Allah dan bergaul akrab denganNya, itulah yang menyelamatkan kita.

Pengenalan akan Allah sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Karena ini sama seperti meletakkan dasar yang kokoh dalam kehidupan seorang sejak usianya masih muda. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata “Biarkanlah anak-anak itu … datang kepadaKu” (Mat 19:14).

Kita menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik kepada anak-anak kita. Saya ingat bagaimana konsistennya ibu saya membiasakan saya untuk selalu mempersiapkan benda-benda yang mau saya bawa atau pakai esok harinya sejak dari malam sebelumnya supaya besok paginya saya tidak perlu lagi direpoti oleh hal-hal tersebut. Walau prosesnya panjang dan tidak jarang harus melalui perjuangan karena saya lupa, malas atau melawan tapi pada akhirnya kebiasaan itu tertanam dalam diri saya.
Begitu pula halnya dengan pengenalan akan Allah. Kalau sedari kecil hal itu sudah dilakukan maka akan tertanam dalam dirinya sampaikan sulit untuk membuangnya. Bahkan pengenalan akanAllah menjadi semacam bekal baginya untuk dapat bertahan menghadapi beragam masalah, tantangan, cobaan dan godaan yang datang dalam kehidupannya.

Jadi bawalah anak-anak anda kepada Tuhan. Supaya sedini mungkin mereka belajar untuk mengenal Tuhan Yesus.Ajaklah mereka menghadiri acara Sekolah Minggu di gereja. Dengan demikian mereka dapat belajar tentang firman Tuhan, belajar memuji Tuhan, belajar berdoa dan belajar untuk bersekutu dengan orang-orang yang seiman.Yakinlah bahwa semua ini akan tertanam, bertumbuh dan pada waktunya nanti akan mengeluarkan buah-buah yang baik.

Ciomas, Jumat, 30 September 2011
- Keke Muliawati Yohanes -



Rabu, 28 September 2011

AKU DAN SESAMAKU

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) adalah hukum kedua yang terutama yang diberikan oleh Allah kepada manusia dari jaman perjanjian lama.

Kedengarannya sederhana.Prakteknya sulit.



Mudah untuk mengasihi manusia yang bersikap baik. Tapi dalam kenyataannya tidak ada manusia yang 100% baik.Setiap manusia adalah gabungan antara baik dan tidak baik karena adanya kelebihan dan kekurangan di dalam dirinya.

Mudah untuk mengasihi orang yang memiliki banyak kesamaan dengan diri kita.  Tapi dalam kenyataannya manusia tidak diciptakan sebagai mahluk homogen. Di dunia ini ada berbagai macam bangsa, etnis, budaya, bahasa dan kepercayaan.

Mudah untuk mengasihi sesama yang mau menerima diri kita apa adanya. Tapi dalam kenyataannya yang sering terjadi adalah manusia itu sendiri yang membuat dirinya sulit untuk dipahami dan di terima oleh sesamanya.

Tapi hukum sudah diberikan oleh Tuhan. Bahkan contoh pun ikut diberikan. Lalu mengapa Tuhan seperti ngotot mengenai hal mengasihi sesama manusia?

“Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan” (Kol 3:14). 

Tuhan tahu manusia mempunyai segudang perbedaan, kelebihan dan kekurangan. Kasih adalah satu-satunya jalan dan cara untuk mengikat dan mempersatukan manusia. Kasih membuat kita bisa menerima, memaafkan dan berjalan dalam damai dengan sesama kita.

“Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama” (Rm 13 : 10). Karena itu dimana ada kasih, di situ ada kerukunan, kedamaian, kebaikan dan kekompakan.

Lalu apakah kasih hanya ada di antara orang Kristen saja? Tidak. Ada begitu banyak kasih di sekitar kita.

Saya senang melihat empat hal itu terjalin antara masyarakat sekitar dengan Gereja Kristus Pos Kartini ini. Salah satu bentuknya terlihat pada hari Minggu, 21 Agustus lalu saya bersama-sama dengan beberapa anggota badan pengurus dan jemaat ikut menghadiri acara buka puasa yang dilakukan di balai desa.

Kasih terhadap sesama harus di jaga, di pupuk dan di pelihara karena tantangan di jaman akhir ini terlalu banyak dan besar. Ada begitu banyak perpecahan, perselisihan dan bahkan pembunuhan terjadi karena manusia tidak mengerti makna dari mengasihi sesamanya.

Ciomas, Selasa, 27 September 2011
- Keke Muliawati Yohanes -

Jumat, 19 Agustus 2011

JENDELA DUNIA
             Itu yang dikatakan orang tentang buku. Tapi masalahnya sekarang ini ‘jendela dunia’ tersebut lebih banyak tertutup dari pada terbuka. Mengapa demikian? Karena harga buku semakin lama semakin jauh melambung melebihi daya beli masyarakat. Jadi kalau ada yang berpendapat bahwa minat baca masyarakat berkurang maka kita harus mengingat bahwa untuk sebagian besar manusia ‘urusan perut lebih utama dari pada membeli bahan bacaan’.
Namun kita harus juga mensyukuri bahwa ada banyak sekali gerakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengupayakan agar buku bisa terjangkau oleh masyarakat.
            Ada yang menggelar penjualan buku dengan harga murah. Tapi umumnya adalah semakin banyak di buka taman bacaan atau perpustakaan. Walau belum dilakukan secara serentak atau terorganisir tapi hal ini sudah sangat menolong masyarakat untuk mendapatkan akses informasi melalui bahan bacaan atau untuk memuaskan kesenangan membaca.

            Saya adalah salah satu orang yang merasakan betul dampak ekonomi di negeri ini terhadap harga buku. Masalahnya adalah dalam sepuluh tahun terakhir ini penghasilan saya tidak lagi sebesar seperti sebelumnya sehingga seperti yang saya tuliskan di atas ‘urusan perut lebih utama dari pada membeli bahan bacaan’. Dulu setiap bulan setidaknya 2-3 buku saya bisa beli. Itu jumlah minimal. Belum lagi majalah dan koran yang rutin saya beli. Tapi selama sepuluh tahun ini untuk membeli sebuah tabloid seharga lima ribu saja saya harus berpikir sepuluh kali. Yah, sedih juga rasanya harus mengorbankan hobi membaca tapi apa boleh buat. Sikonnya demikian. Tapi saya sudah belajar untuk menjalani sikon apa pun dengan iman.
            Dan Tuhan memberikan jalan keluar yang tidak saya duga. Enam tahun lalu seorang ibu di kompleks perumahan tempat tinggal saya secara swadaya membuka sebuah perpustakaan dirumahnya.
Kebetulan ibu ini juga membuka les matematika sempoa dan bahasa Inggris dirumahnya itu. Kami berdualah yang menjadi pengajarnya. Keuntungan sebagai pengajar di tempat les merangkap perpustakaan itu adalah saya bisa membaca dan meminjam semua buku yang ada di situ tanpa ada batas waktu. Tidak bisa dikatakan bagaimana gembiranya saya bisa memuaskan kerinduan untuk membaca buku.
            Berkat beberapa buku yang saya baca di perpustakaan beliau itulah yang mendorong saya untuk mulai berani menulis. September 2010 saya membuat blog (www.kekeyohanes@blogspot.com). Sampai Agustus 2011 tercatat blog itu sudah dikunjungi (di baca) oleh lebih dari 2,800 orang dari berbagai kota di Indonesia dan juga dari berbagai negara.
            Buku telah memberikan kepada saya pengetahuan. Buku juga telah menjadi satu dari sekian hal yang menginspirasi saya.
            Gereja Kristus Pos Kartini ini pun memiliki perpustakaan. Hari Minggu, 14 Agustus lalu ibu Livia, ibu Henny dan saya melakukan stock opname. Wah, mata saya ‘hijau’ melihat begitu banyak buku. Mulai dari buku anak-anak, pemuda, majalah, buku rohani dan buku bertema umum ada di perpustakaan ini. Memang belum terlalu lengkap tapi lumayanlah dari pada tidak ada.
            Bila memang ingin lebih lengkap atau lebih banyak, perpustakaan akan sangat gembira menerima sumbangan buku-buku dari anda semua. Tidak perlu baru kalau memang anda tidak memiliki buku baru atau belum bisa membeli yang baru. Buku atau majalah yang tidak baru pun akan di terima dengan tangan terbuka. Walau tentunya mohon diperhatikan apakah kondisi fisik dan tema buku itu layak atau tidak untuk disumbangkan kepada perpustakaan gereja.

            Mengingat pula bahwa semua buku yang berada di perpustakaan ini berprinsip ‘dari kita untuk kita’ maka saya juga ingin menghimbau supaya bersama-sama kita bisa menjaga keutuhan dan kerapihannya selain tentunya menjaga agar tidak hilang dan dapat dikembalikan tepat waktu.
            Sekali lagi harus kita ingat bahwa buku merupakan salah satu sumber pengetahuan dan informasi. Karena itu marilah kita ikut menyebarkan pengetahuan dan informasi tersebut karena banyak orang bisa mendapat manfaat dan keuntungan dari padanya.
Ada banyak cara untuk melayani Tuhan. Dan ini adalah salah satu bentuk pelayanan untuk Tuhan karena Tuhan berfirman “... lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (I Kor 10:31).

Ciomas, Kamis, 19 Agustus 2011
- Keke Muliawati Yohanes -